Seni budaya

MALIOBORO, Cat Air Diatas Kertas, 2022

Malioboro Nan Basah Lewat Cat Air Soegian Noor

Malioboro Nan Basah Lewat Cat Air Soegian Noor

Oleh: Raihul Fajri

SATU sudut Jalan Malioboro Yogyakarta tampak basah akibat guyuran hujan. Jalur pedestrian di sisi Timur jalan ini memantulkan bayangan bangunan toko dalam warna dominan kehijauan di tengah suasana yang khas kawasan pariwisata itu berupa jejeran bangku yang terbuat dari kayu dan besi. Ada pula deretan pohon hias, tiang lampu berukir dan plang bertuliskan Jl. Malioboro dengan tulisan aksara Jawa di bawahnya. Bak citraan fotografi, suasana kota ini terlihat bergerak dari bentuk-bentuk detil yang makin jauh ke arah belakang semakin impresif dan kabur, akhirnya tampak memutih bak terselimut kabut.


MALIOBORO, Cat Air Diatas Kertas, 2022

Inilah satu dari 21 karya lukis Soegian Noor dengan menggunakan teknik cat air di atas kertas (Hujan Mulai Reda, 2020) dalam pameran lukisan cat air di GPrint Making Art Studio, Yogyakarta, 18 - 24 Juni 2022. Pameran ini menarik dengan menampilkan sejumlah pendekatan dalam mengelola teknik cat air di atas media kertas dan kanvas.

Pada karya lukisnya yang lain, Soegian, 56 tahun, menjadi lebih impresif saat "memotret" sejumlah sudut di kawasan Malioboro itu dengan subject matter berupa suasana di sekitar bangunan cagar budaya. Pada karya bertajuk Malioboro (2022) misalnya, bentuk jejeran bangunan, tiang listrik pepohonan dan figur-figur berupa struktur goresan garis-garis kuas dalam warna transparan cenderung monokrom. Hal yang sama juga tampak pada karya bertajuk Stasiun Tugu Yogya (2022) atau karya bertajuk Jalan Perwakilan (2022) yang menggambarkan suasana keremangan malam di sudut jalan dengan struktur bangunan hotel, becak, dan kenderaan lainnya.

Efek cair dan transparansi goresan cat air menguatkan corak impresif bentuk-bentuk bangunan cagar budaya yang sudah banyak dikenal itu. Ada bentuk bangunan lawas pasar (Beringharjo, 2022), bentuk Tugu Putih (Tugu, 2022), bentuk jam lawas di tengah jalan (Ngejaman, 2022) dengan latar belakang bangunan tua gereja (Ngejaman, 2022) yang lebih berwarna, bangunan bercorak arsitektur kolonial di kawasan Titik Nol Kilometer (Gedung BNI, 2022), atau tampak depan bentuk bangunan hotel lawas (Grand Inna, 2022). "Sangat menyejukkan hati ketika melihat efek cat air yang tidak bisa diperoleh dengan teknik lain," ujar Soegian.


NGEJAMAN, Cat Air Diatas Kertas, 2022


GEDUNG BNI, Cat Air Diatas Kertas, 2022

Sebaliknya pada lukisan cat airnya dengan subject matter potret figur, Soegian menunjukkan kemampuannya menggarap secara realis. Sejumlah potret tokoh, mulai dari penyair Taufik Islamil hingga musisi Yunani, Giannis Chrysomalis yang dikenal dengan panggilan Yanni, dan potret figur lainnya tampil dengan penggarapan yang detil mulai dari tekstur wajah hingga corak atribut pakaian yang dikenakan. Subject matter tunggal itu mencuat di tengah sapuan garis ekspresif yang transparan di sekitarnya.


MELATI, Cat Air Diatas Kertas, 2021

Pelukis alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta kelahiran Barabai, Kalimantan Selatan ini mulai menggarap teknik cat air sekitar 2003-2004. Sebelumnya dia menggarap lukisan dengan teknik cat minyak dan akrilik. "Eksplorasi media sangat nyaman," kata dia menjelaskan kenapa dia berpindah ke teknik cat air.


HARIKU, Cat Air Diatas Kanvas, 2021

Selain itu, ujarnya, menggarap lukisan dengan teknik cat air menjadi tantangan tersendiri. Menurut dia, cat yang bercampur air itu seakan menuntun dan bekerja sendiri untuk menghasilkan bentuk-bentuk artistik. "Dengan menggunakan cat air lukisan harus langsung jadi dan tidak bisa ditumpuk," ujar Soegian. Yang menarik, jika terjadi kerusakan saat menggoresken cat, malah jadi terlihat artistik. "Jika terjadi kecelakaan dalam menorehkan warna di atas media kertas yang terjadi justru kecelakaan artistik."


JALANKU, Cat Air Diatas Kanvas, 2022

Sosok tubuh berotot, kepala tertunduk, dan tangan terentang bak dialiri cat air yang menetes dari ujung kepala hingga sekujur tubuh (Jalanku, 2022) bak menggambarkan dirinya mengarungi lanskap hidup yang mengalir dalam seni lukis cat air.#

*Raihul Fajri, wartawan senior, pemerhati senirupa.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top