Opini

Sumber: Al Jazeera

Ketegangan Rusia - NATO dan Ancaman Kelaparan Global

Ketegangan Rusia - NATO dan Ancaman Kelaparan Global

Oleh : Sampe L. Purba

SIAPA menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.

Kata bijak di atas, dikutip dari seorang ahli filsafat, raja flamboyan dari suatu bangsa lebih dari 2500 tahun yang lalu. Di zaman modern ini, nasihat nujum ini menemukan relevansinya kembali, sehubungan dengan proxy perang Rusia - NATO di teater palagan Ukraina yang malang.

Esensi sejarah peperangan umat manusia, pada umumnya bersumber dari tiga hal, yaitu perebutan sumber daya energi, sumber daya air dan sumber daya makanan. Tulisan ini difokuskan ke gandum sebagai sumber bahan makanan. Bahan bersumber gandum adalah makanan pokok di negara-negara beriklim sedang, dengan curah hujan rendah, seperti Afrika dan negara-negara sub tropis di dunia. Pun, di Negara tropis seperti Indonesia.

Dalam tahun 2020 tercatat produksi gandum dunia sebesar 760 juta ton. Lebih dari 41% diantaranya dihasilkan oleh tiga negara saja, yaitu RRC, India dan Rusia. Rusia dan Ukraina termasuk dalam lima besar eksportir gandum dunia. Banyak Negara di dunia yang tingkat ketergantungannya kepada kedua Negara ini melebihi 50%. Negara-negara Afrika misalnya. Menurut Statistica.com, dalam tahun 2020 Rusia dan Ukraina memasok 30% gandum ke Afrika. Mesir adalah importir gandum terbesar di dunia pada tahun 2020, dengan nilai impor sebesar USD 5,2 milyar, di mana sebanyak 62% di antaranya dipasok oleh Rusia, 24% berasal dari Ukraina, serta sisanya dari Perancis, Romania dan Australia.

Indonesia adalah negara pengimpor gandum terbesar di dunia pada tahun 2021. Biro Pusat Statistik mencatat impor gandum Indonesia sebesar 11,17 juta ton dengan nilai USD 3,45 milyar. Impor tersebut berasal dari Australia sekitar 42%, diikuti oleh Ukraina 25%, Kanada 19%, Argentina 5%, dan dari Amerika Serikat sekitar 4%. Importir besar lainnya adalah Mesir, Turki, RRC dan Algeria Angkanya berkisar dari 8 juta - 11 juta ton dalam tahun 2021 (Indexmundi.com,2022).

Sebelum serangan Rusia ke Ukraina, harga rata-rata gandum per ton adalah USD 332. Setelah perang, harga membubung tinggi naik sampai 60% hingga 100%. Tentu saja hal ini akan sangat menguatirkan. Analis pasar sempat optimis bahwa harga akan turun di bulan Juni. Hal ini terutama karena negara-negara produsen seperti India akan membuka keran ekspornya. Indonesia juga diharapkan melakukan deal perdagangan dengan mempertukarkan minyak kelapa sawit yang surplus dengan gandum yang defisit. Namun, dunia masih harus mencermati kemajuan diplomasi terkait dengan apakah diperbolehkan Ukraina mengekspor gandumnya.

Dalam rapat kerja badan Anggaran DPR baru baru ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan bahwa konflik Rusia - Ukraina akan mendorong kenaikan harga-harga komoditas. Untuk mengurangi efek disrupsi, APBN 2023 akan pasang badan sebagai shock absorber, dalam wujud belanja subsidi, kompensasi dan bantuan sosial yang meningkat, untuk mengantisipasi krisis pangan dan energi. Penguatan efektivitas anggaran prioritas dengan mendukung transformasi sistem kesehatan, akselerasi reformasi perlindungan sosial, percepatan pembangunan infrastruktur dasar, serta peningkatan kualitas pendidikan, di tengah sumber sumber penerimaan yang cekak, merupakan tantangan yang tidak mudah.

Tekanan Barat secara ekonomi kepada Rusia, alih-alih memperlonggar. Rusia malah kemungkinan tidak membuka koridor Laut Hitam di sisi Timur Crimea, yaitu laut dan pelabuhan Azov yang sebelumnya merupakan akses Ukraina ke Laut Hitam dari kota-kota sebelah perbatasan Timur dan Selatan Rusia, seperti Mariupol, Berdyansk dan lain-lain.

Dengan melihat kemajuan penguasaan wilayah oleh Rusia, dikuatirkan front Barat dari Crimea hingga di perbatasan Romania akan dapat dikuasai Rusia. Pelabuhan Odessa di sisi barat Crimea pun saat ini sudah tidak aman. Kedua belah pihak saling menuduh bahwa perang ranjau sedang ditanam, yang membuat lalu lintas kapal menjadi sangat berbahaya. Permintaan Turki untuk membersihkan ranjau di depan pelabuhan Odessa, untuk memberi koridor aman bagi kapal-kapal niaga, ditolak oleh Ukraina. Ukraina kuatir bahwa jalur ranjau yang telah bersih, akan dimanfaatkan oleh Rusia untuk menyerang di sisi barat laut Hitam. Rusia dan Ukraina saling sandera di laut Hitam, yang secara langsung mendorong kelangkaan pasokan gandum ke dunia.

Apabila sisi barat jatuh, praktis Ukraina sudah tidak memiliki pelabuhan laut lagi. Ini sekaligus berarti membuat barang-barangnya seperti gandum dan lain-lain, akan tertahan, atau hanya dapat dikeluarkan dengan seizin penguasa baru di wilayah tersebut.

Uni Eropa mencermati perkembangan peperangan di Ukraina dengan penyikapan mendua, antara rakyat dengan Pemerintah. Kesepakatan Uni Eropa sejalan dengan NATO untuk memberi tekanan militer dan ekonomi kepada Rusia. Tekanan militer adalah dengan memberi persenjataan, nasihat dan pelatihan militer kepada Ukraina. Adapun tekanan ekonomi yang terbaru adalah dengan disepakatinya paket enam sanksi ekonomi. Termasuk di antaranya adalah pelarangan seluruh minyak dan produk petrokimia yang dikirim via laut. Hal lainnya adalah seperti pelarangan siaran radio televisi Rusia, pembatasan ekspor dan lain-lain.

Tekanan Uni Eropa dan NATO yang baru-baru ini mendorong dan "mengumpankan" Lithuania negara kecil untuk memblokade jalur kereta api logistik dan kargo Rusia ke Kaliningrad - daerah enclave Rusia - di laut Baltik, dikuatirkan justru akan mempercepat eskalasi perang ini melewati Ukraina langsung ke jantung Eropa. Ini hanyalah seperti menambah bensin ke kobaran api. Presiden Putin telah memperingatkan bahwa blokade ke laut Baltik dapat dipandang sebagai menantang langsung kepentingan nasionalnya.

Untuk sekedar informasi, Kaliningrad - sebelumnya bernama pelabuhan Koenigsberg - ibu kota Prusia Timur, direbut Tentara Merah pada April 1945 dari Nazi Jerman. Kota itu diserahkan ke Uni Soviet, sebagai bagian dari kesepakatan para pemenang perang dunia kedua. Kaliningrad luasnya hanya 223 Km2, kira kira sepertiga wilayah DKI Jakarta merupakan akses ke pelabuhan laut air panas ke arah Laut Utara. Emanuel Kant - ahli filsafat abad ke 18 Jerman yang tersohor itu, lahir di kota ini.

Rusia tahu persis bahwa sanksi yang dikenakan NATO dan Uni Eropa adalah setengah hati, yang hanya memperpanjang penderitaan di Ukraina dalam perang berlarut ini. Di bidang Militer misalnya, bantuan persenjataan NATO dilarang keras untuk digunakan Ukraina yang dapat membahayakan orang maupun infrastruktur di Rusia. Pada hal, Rusia dengan leluasa menggunakan persenjataannya di tanah Ukraina. Adapun terkait dengan sanksi ekonomi, juga terlihat setengah hati. Uni Eropa hanya melarang impor minyak melalui laut, sedangkan yang melalui pipa tidak dikutak-katik. Demikian juga dengan gas. Ketergantungan Eropa sangat tinggi kepada gas Rusia, yang secara agregat di atas 30%. Di berbagai Negara bahkan ada yang hingga 80%, sehingga sanksi ekonomi tidak ada kutak katik terhadap gas

Sebaliknya Rusia dengan cerdik memanfaatkan ketidakberdayaan Eropa tersebut. Eropa dipaksa untuk membeli gas dengan mata uang Rusia, Rubel. Pasokan gas ke beberapa Negara di Eropa dikurangi. Menjelang musim dingin di Eropa, Rusia sudah mengumumkan dan melaksanakan pengurangan pasokan gas ke Eropa. Itali, Perancis, Jerman hingga negara-negara kecil seperti Slovakia. Rusia berkilah, pengurangan aliran gas ke Jerman dan Perancis melalui pipa transmisi Nord Stream 1 misalnya, adalah karena masalah teknis. Peralatan yang diperbaiki masih tertahan di Kanada, karena sanksi NATO. Kali ini, senjata makan tuan digunakan cerdas oleh Presiden Putin.

Rakyat di Eropa, yang pada awal perang sangat dengan antusias mengecam Rusia dan membuka pintu kemanusiaan selebar-lebarnya kepada para pengungsi Ukraina, kini mulai tidak tahan. Harga-harga kebutuhan pokok yang mulai naik, gas langka dan ada kemungkinan pengurangan pasokan listrik. Perusahaan-perusahaan juga mencatatkan rugi, karena disrupsi ekonomi. Target pertumbuhan ekonomi Uni Eropa yang sebelumnya diprediksi 4% sebelum perang, kini hanya diperkirakan 3%. Hal ini tidak cukup kuat untuk memulihkan ekonomi dari akibat pandemi yang lalu.

Beberapa hari yang lalu di Brussels - pusat eksekutif dan parlemen Uni Eropa - terjadi demonstrasi besar-besaran. Sekitar 80 000 orang anggota serikat buruh demonstrasi. Seluruh penerbangan ditunda, transportasi lokal terganggu dan terhenti. Rakyat meneriakkan agar Pemerintah lebih baik memberi perhatian mengurangi beban hidup yang semakin berat, daripada menggelontorkan puluhn dolar membeli persenjataan di bawah NATO untuk diteruskan ke Ukraina.

Putin tersenyum. Pemimpin Rusia itu tahu persis bahwa semakin lama perang di Ukraina, Pemerintah Negara-negara demokratis Eropa akan berhadapan dengan rakyatnya sendiri. Joe Biden ? Kita tidak tahu persis. Pemimpin NATO di seberang Atlantik ini ini tetap memasang wajah serius. Walaupun Opa Biden juga tahu bahwa pada tiga bulan pertama perang di Ukraina, Industri persenjataan di Amerika Serikat mencetak untung cuan besar. Cermatilah perusahaan Kontraktor persenjataan seperti BAE Systems, Lockheed Martin, Northrop Grumman dan lain-lain produser senjata dan misil yang dikirim ke Ukraina. Nilai saham Perusahaan perusahaan tersebut meningkat tajam di atas 25% dalam tiga bulan ini saja.

Indonesia harus mengambil hikmah dari perang dan eskalasi geopolitik yang semakin memanas ini. Mengandalkan rantai pasok internasional, saat ini merupakan titik rapuh. Indonesia harus membangun dan memperkuat ketahanan pangan domestik. Pada berbagai kesempatan, Presiden telah mengingatkan akan pentingnya hal tersebut. Masing-masing daerah harus mencari dan mengembangkan keunggulan dan kekhasan daerahnya di bidang pangan. Diversifikasi pangan dengan menggalakkan tanaman sagu, jagung, porang dan sebagainya harus berkelanjutan. Gotong royong sebagai jati diri bangsa perlu digalakkan sebagai wujud patriotisme ekonomi.

Pembangunan infrastruktur pendukung seperti waduk, embung, jalan transportasi ekonomi desa yang merupakan program unggulan Pemerintah hendaknya terintegrasi dengan manajemen pasar pasca panen. Fenomena klasik, pada saat panen harga harga komoditas pertanian turun, karena tidak sinkronnya rencana impor, pergudangan dan penyangga harga komoditas merupakan sebuah tantangan.

Hadirnya Badan Pangan Nasional berdasarkan Perpres 66 tahun 2021 merupakan kebijakan strategis, diharapkan merupakan jawaban terhadap dua hal sekaligus. Pertama, menjamin ketersediaan pangan dan harga yang adil bagi petani dan konsumen dalam negeri, di satu sisi. Kedua, merupakan penyangga dan garda terdepan menghadapi rantai pasok internasional yang disruptif.

Kita tidak tahu sampai kapan perang dan situasi internasional ini akan berlangsung. Sementara itu, perut yang lapar dan kantong yang menipis tidak dapat menunggu berlama-lama. Pepatah lama, "Jauh lebih tajam perut yang kelaparan dibanding pisau silet sekalipun".

Apabila perang ini berakhir - entah kapan - kita hanya akan menyaksikan rakyat Ukraina yang menderita, rakyat Eropa yang ketiban sial, dengan beban hidup yang semakin berat. Dua gajah yang bertarung, hanya akan mengakibatkan pelanduk terjepit dan luntak lantak. Nalar kita bertanya, sesungguhnya siapakah yang mengeruk keuntungan dari perang ini ?. Kami bersimpati kepada rakyat Ukraina yang menderita.

Jakarta, Juni 2022

*Penulis, Peneliti Senior pada Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Strategis - Alumni Universitas Pertahanan RI


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top