Opini

Eslandia

Eslandia: Negara Tanpa Masalah Banyak Tantangan

Eslandia: Negara Tanpa Masalah Banyak Tantangan

Oleh: Todung Mulya Lubis

SEHARIAN saya dan Cici mengikuti upacara hari kemerdekaan Islandia yang dimulai di gereja Reykjavik Cathedral (Domkirkjan), sebuah gereja kecil di tengah kota. Yang hadir hanya pejabat pemerintahan dan komunitas diplomatik. Dari Oslo setidaknya saya bertemu sekitar 20 duta besar yang merangkap untuk Islandia. Acaranya khidmat dimulai dengan doa dan khitbah yang disampaikan oleh pendeta Elinborg Sturludottir.

Dia menceritakan proses lahirnya negara kecil Islandia pada 17 Juni 1944 saat 25.000-30.000 rakyat Islandia memproklamirkan sebuah negara Islandia. Sebagai negara kecil Islandia sejak saat itu mulai berfikir tentang "peace". Tak pernah terbayangkan akan ada militer yang kuat. Karena itu doa yang disampaikan adalah:

Keep, Lord, our precious land safe when world war thunders. Kata pendeta Sturludottir: Peace is such a big and important word. In times of war, people pray perfently for peace and realize as never before the importance of living in peace and harmony. After all, peace is a prerequisite for people to enjoy life.

Pendeta itu merujuk pada perang Ukraine yang mengancam kehidupan manusia. Kita semua diminta hati-hati menggunakan "words" karena kata-kata itu punya "power". Jangan gegabah. Yang dipentingkan jaman sekarang ini adalah "care". Do unto others s you would have others do unto you, katanya lebih lanjut. Disini yang penting adalah empathy. Ini kata kunci. That a lack of empathy towards the conditions and circumstances of others was the most serious malady of our time.

Setelah 45 menit berada di gereja, kami beranjak ke Austurvollur dimana rakyat telah berkumpul untuk merayakan kemerdekaannya. Austurvollur adalah lapangan kecil di sebelah gereja. Bendera-bendera Islandia berkibaran dimana-mana. Kami berjalan menuju tempat yang disediakan sambil mendengarkan tiupan terompet dari balkon gedung pemerintahan yang tak saya ketahui namanya. Setelah semua duduk, lagu kebangsaan Islandia dinyanyikan, Presiden kemudian meletakkan karangan bunga dimonumen Jon Sigurosson yang dihormati sebagai pendiri Islandia.

Lalu pidato kenegaraan disampaikan oleh Perdana Menteri Islandia, Katrin Jakobsdottir, yang juga sangat menarik. Dia juga menekankan "peace" sebagai isu sentral yang dihadapi oleh dunia terutama oleh negara kecil seperti Islandia yang menurutnya akan tetap menjadi negara non-militer. Dia menekankan system international dan hukum international sebagai basis eksistensi Islandoa dimana Islandia memperjuangkan hak-hak perempuan, anak-anak, lingkungan dan iklim, perdamaian dan "disarmarment".

Dia menekankan bahwa perlombaan senjata akan sangat membahayakan dan karenanya dia mengkritik negara-negara yang meningkatkan anggaran militernya. Perang Ukraine yang terjadi telah menghantam dunia dimana harga energi dan komoditas meningkat tajam. Ini mengkhawatirkan, bisa saja membuka peluang bagi pemerintahan otoriter.

Karenanya Perdana Menteri menekankan kepercayaan akan demokrasi meski demokrasi terus diserang. Dia bilang: democracy should always be the story, the poem, we choose to live. Usai acara di Austurvollur, kami dijamu makan siang oleh Menteri Luar Negeri Islandia, Thordis Kolbrun Reykfjord Gylfadottir, di Harpa Concert Hall.

Menteri Luar Negeri hanya menyampaikan pidato singkat berterima kasih kepada semua komunitas diplomat yang hadir sembari mengajak untuk meningkatkan kerjasama ke depan. Saya sempat ngobrol dengan Menteri Luar Negeri yang masih sangat muda itu, bertukar informasi mengenai kerja sama bidang energi terbarukan antara Indonesia dengan Islandia. Dia menawarkan bantuannya seandainya Indonesia ingin menjajaki kerja sama lebih jauh lagi.

Tidak lama acaranya. Kami kembali ke hotel untuk sedikit istirahat karena jam 16 nanti kami akan diundang ke resepsi di kediaman Presiden Islandia, Guoni Th Johannesson. Ketika saya bersalaman dengan Presiden saya menyempatkan diri mengucapkan terimakasih untuk kerjasama Islandia-Indonesia selama ini, dan saya sekaligus mohon pamit karena sudah akan menyelesaikan tugas saya sebagai duta besar dalam tahun ini.

Di sini acara juga singkat, minum anggur merah dan putih sambil mendengarkan pidato Presiden yang sekali lagi mengungkapkan kebanggaannya akan Islandia yang indah, makmur, dan resiliens. Presiden bilang Islandia tak punya masalah sejatinya tapi Islandia punya banyak tantangan. As a President, I am not supposed to talk about problem because there is no problem. But as a nation Iceland does have challenges as other countries do.

Apa kesan saya tentang perayaan hari kemerdekaan Islandia? Peringatan hari kemerdekaannya singkat dan sederhana. Saya melihat peran perempuan sangat dominan sama seperti di negara Nordic lainnya. Komitmen mereka lebih pada "welfare" dan ini menjadi program sentral pemerintahan.

Satu lagi yang saya terkesima yaitu peran agama dalam upacara kenegaraan. Peringatan hari kemerdekaan ini dimulai di gereja, lalu ada juga pembacaan doa. Setelah itu ada pidato kenegaraan. (lihat bendera-bendera Islandia, Finlandia, Denmark, Swedia dan Norwegia. Semuanya bernuansa agama).

Negara-negara Barat yang mengklaim diri mereka sebagai sekuler sebetulnya menempatkan agama cukup sentral. Indonesia pada sisi lain menolak menyebut dirinya sekuler tetapi dalam pengamatan saya cukup menerapkan paham sekuler dalam kehidupan ketatanegaraan walau tak sudi menggunakan kata sekuler atau sekulerisme.

*Prof. Todung Mulya Lubis, Duta Besar RI Untuk Norwegia dan Eslandia.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top