Opini

Jamaah haji bersiap melakukan ziarah di Ma'la. Catatan Perjalanan Haji (4)

CJH Indonesia Harus Paham Etika Ziarah di Ma'la

CJH Indonesia Harus Paham Etika Ziarah di Ma'la

Oleh: Muh. Saekan Muchith

MAYORITAS calon namaab haji (CJH) atau jamaah haji Indonesia selama pelaksanaan haji pasti ingin ziarah ke makam di Makah yang biasa disebut Jannatul Mu'alla, juga dikenal sebagai Pekuburan Ma'la dan Al-Hajun. Area pemakaman yang berada di utara Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi.

Di makam tersebut dikuburkan buyut, paman, kakek, istri dan keturunan Nabi Muhammad serta sahabat. Diantaranya ialah dua putra Nabi Muhammad yakni Al-Qosim bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad. Abdul Muttalib bin Hasyim yang merupakan kakek Nabi Muhammad dan pamannya Abu Thalib . Selain itu ada juga makam dua anak sahabat Rasul, Abu Bakar As-Shiddiq yakni Abdurrahman dan Asma.

Selain itu para Alim Ulama asal Indonesia diantaranya juga banyak yang dimakamkan di ma'la antara lain, Syaikh Ahmad Khatib Sambasi (wafat 1875), Syaikh Nawawi Bantani (1897), Syaikh Junaid Betawi (akhir abad 19 M), Syaikh Abdul Haq Banten (1903), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (1916), Syaikh Abdul Hamid Kudus (1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (1920), Syaikh Mukhtarudin Bogor (1930), Syaikh Umar Sumbawa (1930-an), Syaikh Abdul Qadir Mandailing (1956), Syaikh Yasin Padang (1990) dan KH Maimoen Zubair (2019).

Pada hari Kamis, 23 Juni 2022 jam 07.00 saya berlima berangkat dari hotel menuju makam Ma'la.

Dengan tujuan ziarah kepada Dayyidatina Siti Khotidjah dan para ulama Indonesia yaitu Syekh Nawawi Al Bantani dan Romo KH Maemoen Zubair ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah. Saat masuk area pemakaman kami berlima ditemui penjaga makam kemudian memberikan penjelasan yang intinya pesan tentang etika ziarah di Ma'la.

Bahwa ziarah ini hanya sekadar berkunjung bukan meminta kepada orang yang mati, silahkan memberikan salam penghormatan , jangan sampai berdoa dengan mengangkat tangan, kalau berdoa dengan mengangkat tangan harus menghadap ke arah kiblat dan meminta kepada Allah SWT. Begitu kira-kira inti pesan yang disampaikan kepada saya bersama 5 orang teman lainya.



Setelah berziarah ke makam Siti Khadijah, terus menuju makam Syeh Nawawi Al Bantani, kemudian ke makam putra Abu Bakar Asyiddiq. Dan terakhir ziarah di makam Romo KH. Maemoen Zubair, pada saat kami tahlil dengan posisi duduk di atas Nisan, baru sampai membaca ayat kursi kemudian dilarang oleh dua polisi supaya berdiri dan berhenti. Kami berpikir kalau tidak segera berdiri dan meninggalkan tempat, bisa jadi polisi marah. Daripada nanti ada hal hal yang menyulitkan, akhirnya kami berlima meninggalkan makam (nisan) makam KH. Maemoen Zubair, bacaan tahlil kami lanjutkan sambil jalan keluar menuju pintu pemakaman.

Kami dan pada umumnya orang Indonesia tidak pernah berpikir untuk meminta atau menyembah kuburan, ziarah itu murni untuk mendoakan para arwah yang sudah wafat agar Allah selalu mengampuni semua kekhilafanya dan menempatkan di surga-Nya.

Kami percaya bahwa salah satu hak sesama muslim diantaranya mendoakan ketika sudah wafat. Terlepas dari semua itu, makna yang bisa diambil bagi calon jamaah haji khususnya Indonesia, bahwa pertama, etika ziarah di makam Indonesia itu berbeda dengan ziarah di makam Arab Saudi. Jangan sampai tradisi berziarah di makam Indonesia disamakan dengan di Arab Saudi.

Kedua, Supaya tidak mengalami kesulitan di kemudian hari maka seluruh CJH Indonesia harus benar benar mentaati tata cara berziarah yang ditentukan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Ketiga, CJH ini adalah tamu Allah yang berada di negeri orang lain, sebagai tamu wajib hukumnya mentaati semua aturan ditentukan oleh tuan rumah dalam hal ini Pemerintah Arab Saudi.

Semoga semua calon jamaah haji selalu mendapat kemudahan, kesuksesan dan keberkahan dalam beribadah kepada Allah SWT. (*)

Makkah al Mukarromah, 24 Juni 2022

Dr. Muh. Saekan Muchith, Dosen UIN Walisongo Semarang, tergabung dalam CJH Kabupaten Kudus.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top