Catatan dari Senayan

Menggedor Nurani Putin dan Zelenskyy

Menggedor Nurani Putin dan Zelenskyy

Menggedor Nurani Putin dan Zelenskyy

MINGGU 26/6 kemarin kita lepas kepergian Presiden Joko Widodo (Jokowi) memulai rangkaian kunjungan luar negeri ke empat negara: Jerman, Ukraina, Rusia, dan Persatuan Emirat Arab. Presiden terlebih dahulu mengunjungi Jerman untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 sebelum kemudian memulai misi perdamaian ke Ukraina dan Rusia.

Mendamaikan Rusia-Ukraina terkesan terlalu muluk, setelah kedua negara berperang tiada henti. Tapi niat Presiden Jokowi perlu kita apresiasi. Perang apa pun alasannya tetaplah pencipta kerusakan dan penderitaan. Bukan hanya untuk kedua negara, tapi untuk warga seluruh dunia dan untuk kemanusiaan.

Yang berperang langsung memang dua negara. Tapi sesungguhnya perang ini melibatkan banyak negara. Amerika Serikat dan negara-sekutunya yang tergabung dalam NATO berada di belakang Ukraina. Sementara China terang-terangan mem-back up Rusia. Meski keterlibatan mereka tidak pada pengerahan pasukan tapi pada bantuan persenjataan modern dan kebijakan ekonomi.

Perang Rusia-Ukraina adalah perang hegemonik, menyangkut fisik, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Perang total.

Dampak yang ditimbulkannya luar biasa, ketika tidak ada satu pun negara yang tidak membutuhkan negara lainnya. Ketika perdagangan dan kehidupan sosial-budaya nyaris tanpa batas.

Wajar kalau ada yang meragukan prakarsa Jokowi. Apakah prakarsa itu menjadikan Rusia dan Ukraina bergeming? Pesimisme itu muncul mengingat posisi Indonesia bukanlah sebagai negara penentu dalam pertarungan negara-negara di dunia.

Tapi banyak pula yang optimistik dan menaruh harapan. Jokowi ingin mengajak Volodymyr Zelenskyy dan Vladimir Putin untuk membuka ruang dialog dalam rangka perdamaian. Untuk membangun perdamaian, karena memang perang harus dihentikan dan juga yang berkaitan dengan rantai pasok pangan harus diaktifkan kembali.

Jika perang tak berkesudahan dapat dibayangkan dampaknya akan semakin meluas. Di tengah krisis ekonomi dan pangan dunia, ribuan nyawa melayang, triliunan dolar dihamburkan. Penderitaan kemiskinan dan kelaparan akan melanda banyak negara di dunia.

Presiden Jokowi sesungguhnya memiliki modal kuat sebagai pemimpin negara nonblok. Politik luar negeri kita yang bebas aktif secara konsisten telah kita jalankan. Konstitusi kita pun mengamanatkan bangsa Indonesia "ikut memelihara perdamaian dunia." Dunia pasti mengetahuinya

Kita tidak perlu terlalu muluk berharap agar diplomasi Jokowi mampu mendamaikan Rusia dan Ukraina dan mengenfikan perang seketika. Tapi Jokowi setidaknya beritikad baik menggedor nurani Putin dan Zelensky membuka dialog untuk mencapai perdamaian. Berperang adalah kesia-siaan yang harus dibayar sangat mahal: matinya nurani kemanusiaan.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top