Opini

Ramayanti Alfian Rusid

Setitik Harapan Baru dari Andika Perkasa

Setitik Harapan Baru dari Andika Perkasa

Oleh: Ramayanti Alfian Rusid

JENDERAL TNI Andika Perkasa tiba-tiba menjadi pembicaraan di blantika politik Indonesia, dalam ingar-bingar capres 2024. Dia secara resmi 'diusung' oleh partai Nasdem yang diumumkan langsung oleh ketua umumnya, Surya Paloh, dalam acara puncak Rakernas 2022.

Andika Perkasa bukanlah nama baru dalam blantika kandidat capres 2024. Ia kerap disebut-sebut dalam survei. Juga senantiasa jadi perbincangan di jagat maya, di alam medsos.

Lebih spesial lagi di kalangan minoritas Indonesia, yang kerap 'dimusuhi' dan dimarjinalkan oleh anak bangsa sendiri, yang termakan oleh politik identitas. Saya sebagai 'anak China' atau etnis China (saya tidak mau menyebutkan istilah Tionghoa untuk kata ganti China karena itu merupakan stempel yang disematkan oleh pemerintah Orde Baru), merasakan ada setitik harapan dari sang jenderal berotot itu: bahwa dia bisa menjadi perekat kembali anak bangsa yang tersekat-sekat akibat politik pada Pemilu 2019 dan Pilkada DKI Jakarta pada 2017.

Kita semua tahu bagaimana kiprah Andika Perkasa di lingkungannya. Ia sangat tegas mementungi anak buahnya yang mencoba menyenggol 'identitas' bahkan keluarga anak buahnya yang bermain di wilayah itu kena imbasnya. Artinya, jenderal berotot itu sangat anti perpecahan, sekecil apapun itu bentuknya, akan diperangi.

Dengan warna kulitnya yang gelap, kita tahu bahwa 'Mas Otot' bukan jenderal salon yang senang berada di ruangan. Dia adalah orang lapangan sejati yang mengetahui persis denyut nadi prajuritnya sebagai 'rakyat' di lingkungan TNI.

Dari pengamatan saya, Mas Otot adalah jenderal tegas yang tidak sombong. Dari cara menyapa anak buahnya dengan panggilan mas, merupakan bukti bahwa dia sangat menghargai 'rakyat'nya di TNI.

Dengan pola dan tingkah laku seperti itu, maka adalah sangat wajar bila sebagian rakyat seperti saya ini menaruh harapan besar kepada Mas Jenderal. Semoga kelak bila duduk di sebuah kursi Jalan Medan Merdeka Utara atau Medan Merdeka Selatan, tidak ada lagi masyarakat yang dibully oleh masyarakat lainnya hanya karena etnis atau agamanya. Anda harus tampil sebagai lambang perekat bangsa.

*Ramayanti Alfian Rusid , S.Psi, MM.Kom , pemerhati masalah sosial politik dan psikologi masyarakat.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top