Opini

Guntur Soekarno

Perempuan-perempuan Pengguncang Dunia

Perempuan-perempuan Pengguncang Dunia

Oleh: Guntur Soekarno

DALAM sejarah dunia banyak bermunculan tokoh-tokoh perempuan yang berperan ambil bagian di dalam perjuangan-perjuangan di bidang politik, ekonomi, kesenian dan budaya juga intelijen/spionase.

Muncul nama-nama tokoh seperti Henriette Roland Holst di negeri Belanda, Rosa Luxemburg yang mencetuskan teori lompatan dalam revolusi, Djamila Boupacha, Djamila Bouhired pendekar-pendekar perempuan kemerdekaan Aljazair melawan kolonialisme Perancis. Di Indonesia berkibar nama Rangkayo Rasuna Said yang berjuang melawan kolonialisme Belanda di era pergerakan Nasional.

Dalam artikel ini penulis tidak akan mengutarakan apa dan siapa nama-nama tersebut diatas akan tetapi akan membeberkan nama-nama lain yang justru bergerak dibidang yang lain akan tetapi sempat mengguncang dunia karena sepak terjangnya. Sebagiannya Justru datang dari kalangan PSK yang mampu mengguncang dunia.

Ketika Bung Karno memimpin perjuangan PNI (Partai Nasional Indonesia) untuk memperkuat barisan-barisan kader-kadernya yang bersangkutan mengkaderkan berpuluh PSK-PSK yang beroperasi di kawasan Saritem Bandung, walaupun mendapat protes yang keras dari rekan seperjuangannya Ali Sastroamidjojo yang berpendapat tindakan Bung Karno sudah kelewat batas dan merendahkan martabat partai namun dalam hal ini Bung Karno tetap teguh pendirian dan terbukti PSK-PSK tadi yang sudah melalui pendidikan kaderisasi ternyata dapat menjadi informan-informan dan intelijen yang sangat berguna bagi perjuangan partai dalam melawan kolonialisme Belanda. Di Negeri Belanda beberapa abad lalu tercatat dalam sejarah dunia seorang pekerja seks yang bernama Margaretha Geertruida MacLeod dengan nama samaran Mata Hari berhasil membuat pecahnya perang dunia pertama karena kepiawaiannya melakukan kerja intelijen/spionase di negara-negara yang kala itu sedang bertikai. Untuk diketahui perang dunia pertama berakhir dengan kemenangan negara-negara Inggris, Prancis, Serbia, Kekaisaran Rusia, dan lain sebagainya. Nama samaran Mata Hari konon kabarnya karena yang bersangkutan terinspirasi dari bahasa Melayu yang berlaku di Hindia Belanda kala itu.

Tokoh lain yang juga membuat guncangan-guncangan di dunia adalah Xaviera Hollander seorang pekerja seks tingkat tinggi yang sering melakukan hubungan asmara dengan petinggi-petinggi negara-negara Eropa dan kemudiannya seluruh pengalaman-pengalaman asmaranya di guratkan ke dalam kitabnya yang sangat terkenal berjudul "Happy Hooker". Kitab tersebut menjadi sangat terkenal karena didalamnya menyeret nama-nama petinggi-petinggi negara-negara Eropa yang saat itu sedang berkuasa. Buku tersebut di tahun 80-an banyak beredar dan dibaca oleh tokoh-tokoh pemerintahan Indonesia walaupun di dalamnya tidak satupun tokoh Indonesia yang terlibat skandal.

Nama lain yang menyangkut dunia Intelijen Indonesia adalah Pat Price seorang agen andalan CIA yang berusia muda dan berhasil menyelinap ke kalangan keluarga Bung Karno bahkan sudah dianggap anak angkat oleh Bung Karno yang baru terbongkar profesi sebenarnya berkat ikut campur tangannya Presiden Pakistan Ayub Khan dan ahli filsafat Inggris Sir Bertrand Russell. Mereka berdua yang memberikan informasi kepada Bung Karno apa sebenarnya profesi Pat Price yang sesungguhnya. Untuk diketahui Badan-Badan Intelijen Indonesia saat itu seperti BPI (Badan Pusat Intelijen) di bawah kepemimpinan Dr Subandrio, Badan Intelijen Resimen Cakrabirawa dengan Komandan Brigjen Sabur juga Tim Khusus Detasemen Kawal Pribadi (DKP) di bawah AKP Bisono seluruhnya kebobolan dalam mendeteksi identitas dan profesi dari agen CIA tersebut.

Kejadian ini sempat membuat goncangan-goncangan bagi dunia Intelijen Indonesia yang ternyata gagal mencegah infiltrasi seorang agen usia muda CIA yang berhasil menyelinap ke dalam lingkungan keluarga Bung Karno dengan cara yang mulus.

Kejadian lain yang tidak banyak diketahui publik ternyata pemerintah Indonesia pernah hampir-hampir saja mengalami kasus ala Pat Price. Namun berkat kesigapan Komunitas Intelijen kita di kala itu usaha-usaha subversi Karen B Brooks seorang ahli dibidang masalah-masalah Indonesia dan Asia dapat digagalkan dan terdeteksi sehingga identitas yang bersangkutan diketahui/terbongkar hingga ia menghilang kemudian muncul di Bangkok Thailand.

Tokoh-Tokoh Perempuan Indonesia

Kebanyakan dari kita bila berbicara mengenai tokoh perempuan dan pejuang perempuan selalu tertuju kepada Ibu Kartini. Dalam kenyataan masih banyak tokoh-tokoh pejuang perempuan Indonesia yang bahkan sempat "mengguncang" dunia.

Misal saja pejuang pergerakan Nasional dari Sumatera Barat Rangkayo Rasuna Said yang sangat dikagumi oleh Bung Karno karena sepak terjangnya yang revolusioner melawan Pemerintah Kolonial Belanda sehingga yang bersangkutan ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara untuk beberapa lama.

Untuk menghormati perjuangannya saat Rasuna Said dijebloskan ke dalam penjara oleh Kolonialis Belanda Bung Karno membuat sebuah karikatur lukisan tangan Bung Karno di Surat Kabar Fikiran Rakyat berjudul "Salam dari Pendjara!" pada tahun 1932.

Tokoh lain yang menyala terang laksana sebuah obor di dalam kegelapan malam adalah Komandan Laskar Wanita Indonesia Ratu Aminah Hidayat. Ia dengan gagah berani memimpin Laskar wanitanya berjuang bersama pejuang-pejuang yang lainnya di berbagai daerah pertempuran melawan pasukan Kolonial Belanda.

Setelah Indonesia merdeka di bawah pimpinan Presiden Sukarno, Rasuna Said menjadi tokoh terkemuka di Dewan Pertimbangan Agung. Sedangkan Ratu Aminah Hidayat diangkat sebagai salah satu Menteri di dalam Kabinet Presiden Sukarno.

Salah satu ciri khas dari pejuang laskar wanita tadi ialah ia tak pernah lepas mengunyah sirih serta membawa tempolong walaupun sedang berada di dalam sidang Kabinet..

Yang menjadi pertanyaan apakah kedua tokoh pemimpin pejuang tadi dikenal oleh generasi muda saat ini ?

Menurut hemat penulis jangankan generasi muda tokoh-tokoh partai politik, intelektual, bahkan kalangan pemerintah jarang mengenal sosok tersebut diatas apalagi sepak terjang perjuangannya.

Memang di era Reformasi ini penulis menilai pengenalan terhadap sosok pejuang-pejuang khususnya pejuang perempuannya sangat minim. Semangat Hero Worship atau pemujaan terhadap pahlawan boleh dikatakan sirna karena pengetahuan mengenai sejarah perjuangan bangsa tidak lagi diajarkan secara maksimal di sekolah-sekolah maupun lembaga-lembaga pendidikan yang ada misalnya pesantren-pesantren.

Hal tersebut sangat bergantung kepada pola pendidikan yang ada pada saat ini yang menurut penulis mengabaikan perlunya indoktrinasi pembangunan watak dan jiwa bangsa paling tidak seperti apa yang dilakukan oleh Panitia Pembina Jiwa Revolusi di era Demokrasi Terpimpin tahun 60-an yang lalu.

Sudah barang tentu sistem indoktrinasi nya harus disesuaikan dengan kondisi kondisi yang ada saat ini, dimana kemajuan teknologi khususnya teknologi digital sudah sedemikian mengagumkan kemajuannya.

Seperti kita ketahui bangsa dan negara yang watak dan jiwanya kuat laksana baja akan berdiri tegak menghadapi hantaman-hantaman badai dan gelombang pergolakan dunia Internasional yang saat ini bergejolak luar biasa.

Khususnya dengan adanya perang Rusia vs Ukraina dimana Vladimir Putin sudah menjelaskan bahwa perang ini akan berlangsung lama pastinya karena negara adikuasa Amerika Serikat CS terus-menerus memberikan bantuan-bantuan militer maupun dana kepada Ukraina.

Dilain pihak Indonesia November yang akan datang harus menyelenggarakan pertemuan G-20 dimana Indonesia memegang Presidensinya.

Negara-Negara adikuasa saat ini sedang terus-menerus menekan Indonesia agar keputusan-keputusan yang akan dihasilkan menguntungkan pihak-pihak adikuasa terutama di dalam masalah ekonomi & perdagangan.

Tekanan-tekanan tersebut mereka lakukan karena sikap tegas Presiden Jokowi yang mempertahankan secara gigih kepentingan-kepentingan Indonesia yang justru bertentangan dengan kepentingan-kepentingan negara-negara adikuasa. Politik hilirisasi, pelarangan ekspor bahan mentah dan lain sebagainya jelas-jelas langsung memukul kepentingan-kepentingan ekonomi negara-negara adikuasa.

Disinilah arti pentingnya bangsa Indonesia terutama generasi mudanya untuk mempunyai semangat Perjuangan dan penghormatan kepada pahlawan-pahlawan nya serta berjiwa dan berwatak patriotik yang berkobar-kobar.

Bila hal tersebut terjadi berarti bangsa Indonesia berhasil melaksanakan Tri Sakti yaitu

1. Berdaulat dalam bidang politik

2. Berdikari dalam Bidang Ekonomi

3. Berkepribadian dalam kebudayaan

Kita-kita kaum Patriotik yakin akan terselenggaranya hal tersebut diatas dalam kurun waktu yang singkat!

Jakarta, 23 Juni 2022

*Guntur Soekarno, Pemerhati Sosial



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top