Opini

Butet Kartaredjasa

Membinasakan Jejak

Membinasakan Jejak

Oleh: Butet Kartaredjasa

BEBERAPA hari yang lalu saya menyempatkan diri ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Melihat pameran arsip dan koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), di galeri seni yang belum ada namanya, di sebuah lorong panjang, lantai dasar bangunan beton memanjang menempati deretan bekas kedai-kedai dan warung tempat biasanya kita nongkrong sebelum nonton pertunjukan.

Lalu saya duduk-duduk di samping lorong, di pagar halaman rumput yang dulu kawasan parkir depan Graha Bakti Budaya. Semua bangunan ruang-ruang presentasi kesenian, gedung pameran maupun panggung pertunjukan, hilang tanpa ada bekasnya. Jika terhitung sejak akhir 1960an di awal berdirinya, jejak Taman Ismail Marzuki sudah hilang sama sekali. Kita hanya bisa mengingat-ingat di mana titik lokasi Teater Arena, Teater Tertutup, Teater Terbuka, Studio Huriah Adam, Wisma Seni, Gedung Pameran, Graha Bakti Budaya, dll. Semua sirna. Tak ada artefak tersisa.

Di situ saya termangu. Melihat ruang kosong, yang jejak sejarahnya telah binasa (dibinasakan). Se-akan-akan kita harus memulai lagi dari nol membangun pusat kesenian/kebudayaan TIM. Jangan-jangan memang begitulah selera arsitektur modern: merevitalisasi adalah membinasakan dan meniadakan sejarah, meratakan tanah, dan bikin bangunan baru yang terasa congkak. Ironis banget ya: arsitektur kan sesungguhnya juga kerja kebudayaan?

Atau jangan-jangan ini memang selera penguasanya, Gubernur DKI, yang tidak memiliki adab dan kemauan menghormati sejarah dan kebudayaannya. Ingat lho,…. Indonesia belum berubah jadi Suriah. Tapi arogansi dan keganasan "membinasakan" sudah merperlihatkan tanda-tandanya.

Apalagi dengan mengubah payung TIM, dari institusi sosial (yayasan) menjadi institusi bisnis (perseroan terbatas). Jelas sekali maksudnya: pendidikan dan kebudayaan bukan dimaknai sebagai investasi demi melahirkan manusia-manusia berkualitas. Demi masyarakat yang beradab. Tapi menjadikannya mata rantai industri untuk menangguk laba sebanyak-banyaknya. Uasuwoook!

Atas nama kawan-kawan.

*Butet Kartaredjasa, seniman yang biasa menikmati TIM, tinggal di Yogyakarta.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top