Nasional

Presiden Jokowi bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Istana Maryinsky, Kyiv. (Foto/Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

DPR Sebut Misi Damai Jokowi Luar Biasa, Hanya Kurang Didramatisir

DPR Sebut Misi Damai Jokowi Luar Biasa, Hanya Kurang Didramatisir

JAKARTA, SPOST.id - Presiden Jokowi dengan misi damai ke Rusia - Ukraina di tengah perang itu sebagai langkah yang berani dan luar biasa. Apalagi belum ada pimpinan negara dari Asia yang berani mengunjungi kedua negara tersebut. FPDI-P DPR termasuk yang mendorong agar Presiden RI sebagai tuan rumah G20 2022 ini datang ke kedua negara itu sambil menghadiri pertemuan G-7.

"Sejak reformasi ini belum ada presiden yang berani berkunjung ke negara yang sedang perang. Sebelumnya Bung Karno dan Pak Harto ke Bosnia. Hanya saja kali ini Pak Jokowi kurang didramatisir sejak keberangkatannya dari Indonesia, naik kereta api selama 11 jam dari Polandia - Ukraina dan lain-lain. Sehingga tidak heboh pemberitaannya di media-media asing," tegas Effendi MS Simbolon.

Hal itu disampaikan politisi PDIP itu dalam dialektika demokrasi "Misi Damai Jokowi ke Rusia - Ukraina, Efektifkah?" bersama anggota Komisi I DPR RI F-Golkar Dave Akbarsyah Fikarno (virtual), dan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (30/6/2022).

Mestinya lanjut Effendi, dari sisi pakaian seharusnya pakai rompi anti peluru yang keren, peci hitam khas Indonesia, setiap setelah pertemuan dengan pimpinan dunia langsung memberikan keterangan pers pada wartawan, pas di wilayah perang tidak bersama Ibu Iriana.

"Ibu Iriana ditinggal di daerah aman dan sebagainya. Tapi, ini orang-orang di sekelilingnya kurang kreatif, sehingga kurang heboh oleh media asing," ungkapnya.

Menurut Effendi, kehadiran Jokowi tersebut penting karena Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan G20, menjaga keamanan pangan, keamanan energi, dan menegaskan politik luar negeri yamg bebas aktif (non blok).

"Itulah kepentingan Indonesia seperti Bung Karno yang mendukung perdamaian dan menghapus segala bentuk penjajahan di muka bumi ini," jelas Effendi.

Effendi berharap misi mulia Jokowi akan berhasil, menyadari dampak perang kedua negara itu sangat besar bagi dunia. Bahkan NATO pun sampai tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan perang itu, kecuali memasok senjata.

"NATO sendiri malah terbelah menghadapi Rusia saat ini. Jadi, Jokowi layak mendapat memperoleh nobel perdamaian," pungkasnya.

Hal yang sama disampaikan Dave Akbarsyah Fikarno, meski dengan beban yang luar biasa berat karena sangat beresiko besar pergi ke negara yang sedang perang, diharapkan Jokowi berhasil menjadi juru damai dunia.

"Tentu Presiden tak bisa sendirian, melainkan harus didukung oleh negara lain, dan diikuti dengan kebijakan Kemenlu RI yang positif. DPR siap memback up pemerintah di sidang-sidang parlemen dunia (IPU) untuk menekan negara-negara di dunia guna menghentikan perang demi kemanuaiaan dan pemulihan ekonomi," tambahnya.

Connie Rahakundini mengapresiasi keberanian Jokowi tersebut dan itu mendapat pujian dari banyak negara di dunia. Apalagi laporan bank perang itu memgancam terjadinya krisis dan di 60 an negara di dunia akan bangkrut akibat krisis pangan dan energi.

"Jadi, bagi Indonesia ini masalah kehormatan negara. Jangan sampai G20 nanti diboikot. Alhasil, sebanyak 70 persen anggota NATO pun akhirnya menolak bantu senjata untuk Ukraina, karena langkah itu justru akan memperpanjang perang. Jadi, Pak Jokowi ini luar biasa," ungkapnya.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top