Opini

Guntur Soekarno (dok. Ist).

Masalah Alkohol Ricuh, Masalah Ganja Ribut

Masalah Alkohol Ricuh, Masalah Ganja Ribut

Oleh: Guntur Soekarno

Dalam berita di TV, Surat Kabar juga Media Sosial masalah yang menyangkut iklan Alkohol dan masalah Ganja untuk keperluan medis muncul secara meluas dan viral. Masalah iklan tentang minuman beralkohol yang diekspos oleh Gerai Holywings mengundang reaksi keras dari masyarakat luas terutama kalangan kelompok-kelompok Islam yang merasa iklan tersebut merupakan tindakan penistaan agama khususnya agama Islam.

Reaksi tersebut menyeret Gubernur Anies Baswedan untuk mengeluarkan keputusan menutup Gerai Holywings di kawasan DKI Jakarta. Tindakan ini memicu daerah-daerah lain melakukan hal yang sama yaitu Mencabut izin usaha dari Holywings. Akibat adanya pro dan kontra mulailah timbul demonstrasi aksi massal dimana-mana yang antara lain dimotori oleh Ormas FBR (Forum Betawi Rempug).

Ricuh yang satu ini belum berakhir, timbul ribut-ribut masalah penggunaan Ganja untuk keperluan Medis (sebagai obat) gara-gara seorang Ibu paruh baya yang bernama Santi Warastuti berkeliling kota Jakarta (di Car Free Day) mendorong Kereta yang berisi anaknya yang terjangkit penyakit Cerebral Palsy sambil membawa poster bertuliskan "Tolong anakku butuh Ganja Medis".

Sebagaimana biasa berbagai komentar/penjelasan bermunculan dari kalangan keagamaan, Menteri Kesehatan hingga Wapres KH. Ma'ruf Amin turut bereaksi. Kedua kondisi ricuh-ricuh dan ribut-ribut ini seolah-olah "menelan" berita kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk sesaat.

Inilah jadinya bila bangsa dan negara sedang berada dalam keadaan "demam" karena masuknya ideologi Trans Nasional yang berdampak terjadinya konflik sosial antara kelompok Ideologi Liberal Kapitalistik dan Islam Ortodoks dalam bentuk Ideologi Khilafah di satu pihak dengan kelompok yang berdiri tegak mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara serta UUD 45, 18 Agustus 1945 sebagai UUD Revolusi.

Menghadapi hal tersebut kita-kita Kaum Patriotik akan berpegang teguh kepada pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran Bung Karno mengenai perlunya bangsa Indonesia memahami adanya Reform Aksi dan Doels Aksi. Aksi kecil-kecilan dan aksi maksud tertinggi (Soekarno DBR-I). Reform aksi adalah aksi kecil-kecilan yang sifatnya reformistis tidak mengenai dasar permasalahan sebenarnya sedangkan doels aksi adalah aksi yang menyangkut hal-hal prinsipil yang segera harus diselesaikan segera.

Hal tersebut erat hubungannya dengan teori Bung Karno yang lain yaitu kita harus dapat ber-ambeg parama arta yaitu menyelesaikan masalah yang tidak dapat ditunda-tunda lagi dan menunda penyelesain hal-hal yang masih dapat ditunda (Soekarno: Pancasila sebagai Dasar Negara).

Dari kedua hal tersebut di atas maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa masalah Iklan minuman beralkohol yang dilakukan oleh Manajemen Holywings Jakarta dan masalah Biji Ganja sebagai obat kedua-duanya termasuk ranah reform aksi dan bukan doels aksi/aksi maksud tertinggi karena aksi maksud tertinggi saat ini adalah mengatasi pandemi setan siluman Covid-19 yang berdampak langsung kepada roda perekonomian bangsa serta dunia sebagai contoh bagaimana sebuah Negara Adikuasa seperti Amerika Serikat kini mengalami resesi ekonomi.

Namun demikian bukan berarti masalah Iklan Alkohol Holywings dan kebutuhan Biji Ganja untuk Medis dapat ditunda. Sama sekali tidak demikian karena hal tersebut diatas menyangkut langsung hajat hidup para karyawan Holywings bila gerai tersebut ditutup. Demikian pula masalah Ganja itu pun tidak dapat ditunda-tunda karena menyangkut nyawa seseorang yang harus segera diselamatkan.

Penjelasan masalah Alkohol dan Ganja

Sebagaimana kita ketahui pada negara-negara modern di dunia pada umumnya Restoran-Restoran, Coffee Shop dan Gerai-Gerai kuliner menjual minuman-minuman yang didalamnya mengandung Alkohol misalnya di Amerika Serikat, Negara Eropa Barat, Eropa Timur termasuk Rusia juga sebagian Negara-Negara Asia seperti RRC, Vietnam, India, Filipina dan Singapura.

Menjual minuman beralkohol adalah suatu hal yang legal disisi hukum. Kecuali di Negara-Negara agama yang hukumnya berdasarkan Al"Quran dan Sunnah Rasul seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Alkohol diharamkan untuk diminum. Bahkan minyak wangi pun harus tanpa Alkohol.

Bagaimana Indonesia yang Dasar Negaranya bukanlah agama melainkan Ideologi Pancasila walaupun 80% penduduknya beragama Islam. Apakah minuman berAlkohol harus diharamkan atau diperbolehkan dengan batasan-batasan tertentu. Sejauh pengetahuan penulis MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah sejak lama mengeluarkan Fatwa bahwa minuman berAlkohol adalah dilarang untuk diminum khususnya bagi umat Islam.

Apapun masalahnya menurut penulis bila kita hubungkan kasus Holywings dengan adanya Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab serta Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, sebenarnya sangat mudah menyelesaikan kasus tadi. Langkah yang diambil oleh Pemda DKI melalui pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria bahwa Holywings diberi kesempatan untuk mengajukan permohonan izin baru untuk mengganti izin usaha lama yang telah dicabut merupakan tindakan yang bijaksana.

Fokus penyelesaian masalah hendaknya adalah penyelamatan nasib para karyawan yang jumlahnya ribuan di seluruh Indonesia jangan sampai mereka terkena PHK karena akan langsung menyangkut kehidupan keluarga mereka. Jadi berilah kesempatan kepada pihak Hollywings untuk memperbaiki masalahnya dalam hal ini yang perlu diambil tindakan adalah pihak Manajemen yang membuat/menginstruksikan pembuatan Iklan minuman berAlkohol yang nyata-nyata melanggar kaidah-kaidah hukum Islam serta menyinggung perasaan umat Islam pada umumnya.

Sebaiknya Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Menteri Agama mengadakan koordinasi dan mengambil kebijakan/keputusan yang definitif serta melindungi kepentingan-kepentingan para karyawan perusahaan.

Sekarang mengenai penggunaan ganja untuk pengobatan ada baiknya kita dalami dahulu semangat dan jiwa dari artikel Bung Karno "Dibawah Bendera Revolusi" yang bertajuk "Bloedtransfusie dan sebagian Kaum Ulama; Bagaimana Oorlogsetheik Islam". (Soekarno; DBR-I).

Dalam artikel tersebut Bung Karno menegaskan dalam menyelamatkan nyawa seseorang maka donor darah dari orang beragama apapun adalah halal untuk dilakukan karena sifatnya darurat dan to be or not to be, asalkan darah tersebut bebas dari bibit penyakit yang secara Medis dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya.

Demikian pula penggunaan Biji Ganja untuk menyelamatkan nyawa seseorang adalah halal sejauh hal tersebut sudah dibuktikan secara medis bahwa penggunaan Ganja tersebut benar-benar dapat menyelamatkan nyawa seorang penderita.

Menjadi pertanyaan apakah tidak terlambat bagi penderita bila harus menunggu pembuktian secara Medis yang prosesnya akan memakan waktu beberapa saat. Hal tersebut menurut hemat penulis dapat diatasi dengan segera memberikan pengobatan Medis non Ganja kepada penderita.

Masakan dalam kemajuan Teknologi Kedokteran modern saat ini tidak terdapat obat untuk penderita Cerebral Palsy? Pastinya tentu ada walaupun sifatnya hanya untuk memperlambat proses penurunan kondisi penderita mengingat penyakit tersebut bersifat degeneratif sifatnya missal saja dapat digunakan obat Botulinumtoxin kombinasi dengan Diasepam.

Mudah-mudahan pembuktian akan khasiat Ganja dapat terlaksana dalam waktu dekat ini sehingga dapat menjadi obat dan dapat diberikan kepada penderita yang berdasarkan pengalaman yang ada ternyata pengobatan dengan Ganja dapat menyembuhkan penyakit tersebut secara tuntas.

Sambil berdoa kepada Allah SWT kita semua kekuatan Patriotik berharap kedua masalah tersebut yang akhir-akhir ini membuat ricuh dan ribut di kalangan masyarakat dapat berakhir dengan happy ending.

Guntur Soekarno

Pemerhati Sosial


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top