Opini

Yuska Apitya Aji., S.Sos, M.H.

Siapa Penerus Estafet Kepemimpinan di Bumi Tegar Beriman?

Siapa Penerus Estafet Kepemimpinan di Bumi Tegar Beriman?

Author:

Yuska Apitya Aji Iswanto, S.sos., M.H

Peneliti Kebijakan Publik Universitas Pamulang (Unpam) Tangsel, Penulis Buku Politik Kebangsaan. **)


Kontestasi Pilkada 2024 di Kabupaten Bogor dipastikan akan berlangsung sengit. Ini disebabkan karena trah kedinastian Rachmat Yasin (RY), mantan Bupati Bogor, sudah berakhir. Adik kandung RY, Ade Munawaroh Yasin (AMY) juga mengalami nasib serupa dengan kakaknya. Ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi senyap terkait dugaan suap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Kabar runtuhnya kedinastian politik yang dibangun RY ini tentu menjadi kabar gembira bagi kandidat suksesor politik di Tegar Beriman (merujuk pada Komplek Perkantoran Bupati Bogor). Kita tahu bahwa RY dan AMY adalah pegiat kebesaran politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kabupaten Bogor dan Jawa Barat. Runtuhnya kedinastian RY ini tentu akan mengubah banyak peta politik, baik di circle eksekutif maupun legislatif.

Jika merujuk pada komposisi raihan suara di kursi parlemen Kabupaten Bogor hari ini, Golkar menjadi partai paling sukses menempatkan kadernya. Setidaknya ada 9 kursi di DPRD Kabupaten Bogor. Sementara, di bawahnya ad Gerindra dan PPP dengan 7 kursi. Peluang Golkar untuk meneruskan estafet kepemimpinan di Kabupaten Bogor tentu sangat besar. Poin pentingnya adalah siapa yang akan dimainkan Golkar di Pilkada 2024 mendatang?

Ada sejumlah nama kader flamboyan di Golkar yang kini mulai kasak-kusuk menjajaki peluang. Ade Ruhandi (Ade Jaro) dan Wawan Haikal (Wanhai). Dua nama kader Golkar ini kabarnya sudah bersaing sengit memperebutkan tiket Pilkada 2024 mendatang. Bagaimana peluang mereka?

Ade Ruhandi bukan nama baru di Golkar. Jaro Ade, sapaan akrabnya, pernah maju di Pilbup Bogor 2018 lalu berpasangan dengan Ingrid Kansil, istri pesohor Partai Demokrat, Syariefuddin Hassan. Namun, perolehan suara Ade-Inggrid yang diusung PAN, PKS, Nasdem, Demokrat dan Golkar, ternyata kalah dengan duet Ade Yasin-Iwan Setiawan yang hanya diusung PPP, PKB dan Gerindra. Ade-Iwan berhasil menggasak 912.221 atau 39% dari total suara Pilbup Bogor. Sementara duet Ade Jaro-Inggrid berda di bawahnya dengan raihan 859.444 suara atau 37% dari total pemilih.

Lalu, bagaimana dengan Wawan Haikal? Nama Wawan juga tak kalah tenar dengan Ade Jaro. Wawan sudah langganan terpilih menjadi Anggota Legislatif dari Dapil Bogor III meliputi kawasan Puncak dan Perbatasan Bogor-Sukabumi. Modalitas lain yang dimiliki Wawan adalah ia kini menjabat Ketua DPD Golkar Kabupaten Bogor. Bargaing position yang dimiliki Wawan ini tentu menjadi coat-tail effect bagi Airlangga Hartarto untuk memberikan penugasan dan tiket di Pilkada Bogor 2024 mendatang. Tentunya Airlangga juga melihat realita bahwa Wawan telah berkali-kali sukses membesarkan Golkar di Kabupaten Bogor lewat keberhasilannya mendapat kursi terbanyak di DPRD Kabupaten Bogor.

Sistem pencaturan politik di internal Golkar dari tahun ke tahun memang menganut sistem ekslusifisme pengkaderan dalam kandidasi bursa pilkada. Artinya, Golkar memang memprioritaskan kadernya untuk ikut maju dalam kontestasi. Tidak ada sistem konvensi yang sifatnya inklusif atau terbuka di Golkar. Kalau pun ada, ini tentu hanya bersifat formalitas untuk strategi menaikkan citra dan pamor partai semata. Pada realitanya, kandidasi tetaplah bersifat ekslusif dan ditentukan oleh politik internal melibatkan kedekatan dengan ketua umum (ketum).

Sehingga, jika dianalisis dari faktor politik, baik dari positioning politics moment dan logika ekslusifisme Golkar sebagai partai kawakan yang matang dalam memainkan calon, Wawan Haikal memiliki modalitas yang kuat untuk maju di Pilkada Bogor 2024. Tapi, Golkar dengan 9 kursi di parlemen juga belum bisa mengusung paketan calon. Harus ada koalisator sebagai syarat minimum (threshold) yakni 20% dari kursi parlemen yang di isi 50 orang. Golkar mau tidak mau harus sesegera mungkin menyiapkan siapa pendamping Wawan. Tentu calon pendampingnya harus memiliki modalitas sokongan tambahan kursi untuk Golkar. Kita tunggu dengan siapa Wawan akan bersanding. (*)


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top