Opini

Ramayanti Alfian Rusid, pemerhati masalah sosial politik dan psikologi masyarakat

Fenomena Citayam Fashion Week yang meng-Indonesia

Fenomena Citayam Fashion Week yang meng-Indonesia

Oleh: Ramayanti Alfian Rusid S.Psi., MM.Kom

Setelah beberapa daerah dihantui oleh geng motor, dan tawuran antar pelajar atau perkelahian remaja, yang sangat meresahkan masyarakat, kini muncul fenomena Citayam Fashion Week (CFW) yang meresahkan Pemda.

Dengan alasan ketertiban kota dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas, Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Satpol PP, menghalau kegiatan remaja yang bernama ... Fashion Week (titik-titik itu sesuai nama kota, misalnya Madiun, Surabaya, dan lain-lain).

CFW merupakan kenakalan remaja yang berbentuk positif. Mengapa saya sebut kenakalan remaja? Mereka nakal membuat kemacetan lalu lintas di kawasan tertentu, karena menggunakan sebracross sebagai catwalk tempat mereka berlenggang-lenggok, seperti model di ajang pameran mode.

Tidak ada juga mode pakaian yang mereka tampilkan dari desainer terkenal dunia, seperti layaknya pameran mode. Yang mereka kenakan adalah model-model pakaian biasa yang mereka kombinasi sendiri ala mereka. Suka-duka mereka. Mungkin juga telah menjungkirbalikkan estetika model itu sendiri.

Fenomena itu dimulai di Jln Jenderal Sudirman, tepatnya di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Citayam Fashion Week memiliki banyak nama. Ada juga yang menggunakan nama Haraduku (plesetan dari Harajuku, kawasan mode di Tokyo) karena berlokasi di Dukuh Atas. Nama lainnya SCDB (Sudirman, Citayam, Bojong, Depok).

Tingkah nakal mereka telah membuat 'naik pitam' pemda. Pemkot Jakarta Pusat sudah berkali-kali menghalau mereka dengan alasan ketertiban. Bahkan Wagub DKI Jakarta, telah mengeluarkan jam 'operasional' mereka, yaitu dibatasi sampai jam 22.00

Di Surabaya, Satpol PP mengusir mereka yang tengah ber-Surabaya Fashion Week di sebracross di jalanan di depan Tunjungan Plaza. "Bubar, ini bukan Jakarta," kata seorang petugas dalam sebuah rekaman video.

Selain Surabaya, banyak daerah di Jawa Timur yang terjangkit Citayam Fashion Week, seperti Madiun misalnya yang juga dibubarkan oleh Satpol PP.

Dan di ujung barat pulau Jawa, terjangkit juga Citayam Fashion Week, namanya juga diubah menjadi Jurig Fashion Week. Sesuai namanya, yang ini menampilkan pakaian ala Helloween, yang seram-seram seperti hantu.

Salahkah mereka? Sebagai kepala negara, Presiden Joko Widodo melihat potensi kreativitas dalam diri anak-anak remaja Citayam Fashion Week. Kata Jokowi, kreativitas mereka harus didukung, selama tidak melanggar aturan. Mengetahui didukung oleh Presiden Republik Indonesia, merekapun semakin menggila, tidak mau berhenti menapaki sebracross. Terakhir, bukan hanya anak-anak kampung di Citayam dan sekitarnya yang beraksi di Haraduku, tapi juga model dan artis-artis terkenal.

Kenakalan anak-anak Citayam Fashion Week itu, lebih bagus dibandingkan jika mereka tawuran dan membikin resah dalam kelompok geng motor. Atau pergi ke hutan latihan perang dan belajar merakit bom.

Sampai di sini, bila saya mengkhayal lebih jauh, maka Citayam Fashion Week, dalam pikiran saya, bisa saja sebuah operasi intelijen yang bertujuan mengumumkan bahwa anak-anak remaja Indonesia tidak berhasil dibina oleh kelompok yang bertujuan merusak negara Republik Indonesia. Di SCBD, mereka bertoleransi tanpa memandang suku dan agama. Semuanya bersatu di atas zebracross.

*Pemerhati masalah sosial politik dan psikologi kemasyarakatan


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top