Opini

Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah menjadi pijakan bagi tersusunnya kalender Islam Hijriah. Foto/Ilustrasi: Ist

Glorifikasi Hijrah

Glorifikasi Hijrah

Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis

JAKARTA, spost.id- Orang-orang suku Arab itu senang melambungkan hal-hal kecil menjadi sesuatu yg besar. Contohnya hijrah. Nabi dalam perjalanan hidupnya di Mekah terancam. Musuhnya makin banyak. Konsekwensi logisnya, ya pindah tempat, atau hijrah.

Nah peristiwa yg logis ini, kemudian diglorifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi "hari besar, hari suci, hari berkah" dan lain-lain. Hal yang biasa-biasa saja dalam logika ini, kemudian dijadikan awal tahun dalam kalender Arab -- eh bangsa Semit -- yg punya kepercayaan bernama Islam.

Saya lebih suka melambungkan peristiwa kemenangan Panglima Perang Muhammad Ibn Abdillah ketika memasuki kota Mekah tanpa perlawanan tentara suku Quraish.

Panglima Perangnya, Abul Qasim, memerintahkan pasukannya agar: (1) tidak membunuh bayi, perempuan, orang tua, dan orang yang kalah tak berdaya. Ke-2, tidak boleh melakukan bumi hangus, menghancurkan rumah, menghancurkan aset, menebang pohon, dan membunuh hewan yg ada di Mekah.

Ini luar biasa. Dan sampai hari ini pun, perintah Abul Qasim itu sesuatu yg sangat istimewa dan sangat sulit dilakukan manusia dalam kondisi perang. Tapi hebatnya, perintah Rasul Muhammad itu pun bisa dilaksanakan dgn baik oleh semua pasukannya. Peristiwa tersebut di abad ke-7 sangat inspiratif. Bahkan sampai zaman now sekalipun.

Lalu, kenapa peristiwa Fathu Mekah tidak dijadikan hari besar yang tiap tahun ceritanya dikembangkan sehingga menginspirasi dunia?

Kini peristiwa hijrah telah "diasosiasikan ke hal-hal yang remeh" untuk kemudian diglorifikasikan lagi. Seperti hijrah dari busana tradisi lokal menjadi busana tradisi Arab tribal. Hijrah dari seorang musisi menjadi da'i. Dan lain-lain. Makana hijrah pun menjadi absurd.

Bandingkan dengan peringatan peristiwa Fathu Mekah. Sedikit pun tak terbersit di hati Abul Qasim untuk membalas dendam musuh-musuh yang pernah mencelakainya. Suami saudagar Khadijah ini masih tetap menganggap kota Mekah adalah tempat kelahirannya.

Mekah yang gersang adalah secuil wilayah di bumi yang harus dilindungi dari kepunahahan biotanya, tumbuhan dan hewan. Sebuah pelajaran tentang pentingnya konservasi alam untuk mencegah global warming di abad ke-7. Abad sebelum terjadinya revolusi industri yang polusinya menyebabkan suhu udara makin panas.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top