Kesehatan

Ilustrasi penyakit cacar monyet / Foto: Istimewa

Waspada! Imunologis: Kaum LGBT Rentan Terserang Monkeypox

Waspada! Imunologis: Kaum LGBT Rentan Terserang Monkeypox

JAKARTA, spost.id- Penyakit Cacar Monyet (Monkeypox) kini mengkhawatirkan masyarakat dunia. Bahkan kini satu kasus sudah masuk di Indonesia.

Saat ini status cacar monyet pun ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai darurat kesehatan global.

Awalnya kasus ini menjangkit pelaku hubungan sesama jenis, khususnya kaum pria (gay).

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Ari Baskoro Konsultan Bidang Imunologi dari Universitas Airlangga (Unair), dikutip dari Radio Suara Surabaya, Rabu (3/8/2022).

Saat menetapkan status kedaruratan global tersebut pada 24 Juli 2022 lalu, WHO menyebutkan jika 98 persen kasus terjadi pada pelaku gay maupun biseksual (individu pecinta hubungan seksual pada pria maupun wanita).

"Menularnya memang dari droplet, anak-anak juga rentan tertular. Tapi sejauh ini dari data yang dirilis WHO, kasus berasal dari kontak seksual dan kebanyakan memang menyerang kaum LGBT," ujarnya.

Arie Baskoro mengatakan jika gejala yang dialami para penderita cacar monyet (Monkeypox) berbeda dengan cacar air biasa.

Gejala awal Monkeypox yakni demam, badan sakit terutama di punggung, nyeri di kepala (sakit kepala). Kurun waktu dari awal tertular sampai dengan benar-benar dinyatakan sembuh, biasanya akan memakan waktu 21 hari.

"Setelah tertular, biasanya akan demam tiga hari. Selanjutnya, akan muncul ruam dengan cairan di dalamnya. Awalnya banyak di telapak tangan dan wajah," ungkapnya.

Berdasarkan data WHO, angka kematian yang disebabkan oleh cacar monyet sendiri, saat ini hanya diangka tiga sampai enam persen.

Selain itu soal masa kesembuhan, Ari Baskoro menjelaskan, jika hal tersebut tergantung pada imunitas tubuh penderita Monkeypox sendiri.

"Prinsipnya, penyakit yang dikarenakan virus ini bisa sembuh dengan sendirinya kalau penderita punya imunitas sempurna dan baik. Tapi memang tetap harus diisolasi, apalagi saat panas hilang dan ruamnya mulai keluar," terang dia.

Konsultan Bidang Imunologi Unair itu juga mengimbau, meski saat ini di Indonesia belum ditemukan kasus Monkeypox, jika merasakan gejala seperti yang disebutkan, untuk segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan (Faskes) terdekat.

"Intinya memang langsung ke Faskes terdekat untuk diperiksa, syukur-syukur jika bukan (Monkeypox). Yang penting harus sama seperti pola hidup bersih dan sehat," pungkasnya. (dav)


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top