Ekonomi

Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) Qu Dongyu menyampaikan sambutan saat Global Forum rangkaian kegiatan Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 di Jimbaran, Badung, Bali, Selasa (27/9/2022). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

Awas, FAO Ultimatum Bakal Adanya Krisis Pangan!

Awas, FAO Ultimatum Bakal Adanya Krisis Pangan!

ROMA, spost.id - Kepala Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan konflik dan dampak mengenai iklim bakal tetap menjadi pendorong utama di balik krisis pangan, dan menyerukan ketahanan serta lebih banyak upaya untuk perdamaian.

Melonjaknya harga pangan global yang sebagian dipicu oleh konflik antara Rusia dan Ukraina memiliki "implikasi yang menghancurkan" bagi pasokan pangan dan nutrisi global, terutama di negara-negara yang paling rentan, kata Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu.

Dia membuat pernyataan itu saat berbicara dengan menteri pertanian dari negara-negara anggota Kelompok 20 (G20) di Bali, Indonesia seperti dilansir Antara pada Kamis (29/9/2022), menurut rilis berita FAO.

"Biaya manusia, sosial dan ekonomi dari konflik selalu besar, dan perdamaian merupakan prasyarat untuk ketahanan sistem pertanian pangan nasional dan internasional," katanya.

Qu mencatat bahwa tren tersebut merugikan kedua sisi proses pasokan makanan.

"Harga pangan sangat tinggi bagi konsumen, dan harga input sangat tinggi bagi petani."

Lima tingkat tertinggi dari Indeks Harga Pangan FAO semuanya telah dicatat tahun ini, dipicu oleh harga energi yang lebih tinggi dan masalah rantai pasokan yang terkait dengan krisis Ukraina. Indeks sedikit turun dalam beberapa bulan terakhir, dan data baru untuk September diperkirakan akan dirilis awal bulan depan.

Pernyataan Qu datang kurang dari empat bulan setelah FAO mengusulkan Fasilitas Pembiayaan Impor Pangan yang bertujuan membantu negara-negara yang rentan secara ekonomi untuk mengakses kredit yang akan membantu mendanai kebutuhan darurat sambil berinvestasi dalam sistem produksi pangan domestik yang berkelanjutan.

"Kita perlu menghindari bahwa krisis akses pangan juga menjadi krisis ketersediaan pangan," kata Qu. (ara)


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top