Catatan dari Senayan

Dr. H.M. Amir Uskara, Anggota DPR RI Fraksi PPP.

KTT G-20 Bali Tanpa Kehadiran Vladimir Putin

KTT G-20 Bali Tanpa Kehadiran Vladimir Putin

Oleh: Dr. H.M. Amir Uskara, Ketua Fraksi PPP DPR RI

Akhirnya Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menghadiri KTT G20, 15-16 November, di Nusa Dua, Bali. Yang hadir mewakili Rusia adalah Menlu Sergei Lavrov. Dalam kondisi "problematis" perang Rusia-Ukraina, kehadiran Lavrov di Bali sudah cukup mewakili Rusia. Ini artinya, Rusia tetap punya komitmen terhadap keberhasilan KTT G20 Bali, tanpa muncul kekhawatiran adanya "deadlock" akibat perseteruan AS dan Rusia di KTT G20 tadi.

Dengan ketidakhadiran Putin, Senin ( 14/1/022) terlihat Presiden Joko Widodo "nyaman" bertemu dengan Presiden AS, Joe Biden di Bali. Padahal Joe Biden beberapa hari menjelang KTT sudah mengancam "akan memboikot" pertemuan akbar itu jika Putin hadir. Di pihak lain, Presiden Jokowi pun tetap mengundang Putin hadir di Nusa Dua (tanpa menghiraukan ancaman AS), sehingga Rusia tetap memberikan apresiasi terhadap presidensi G20 Indonesia. Dengan demikian, keputusan Putin untuk tidak hadir di Bali, menjadikan suasana KTT adem dan damai. Tanpa konfrontasi dan agitasi untuk mengeliminasi Rusia di KTT. Ini adalah sebuah kemenangan bagi Indonesia dan sekaligus keberhasilan KTT G20, berkat ketidakhadiran Putin. Presiden Rusia itu secara sadar telah membuat keputusan yang menghasilkan "win-win solution" untuk keberlangsungan KTT G20 Bali.

Ketidakhadiran Putin di Bali, adalah sebuah keputusan Rusia yang rasional dan brilian. Peristiwa ini mengingatkan kita pada konflik Uni Soviet dan Amerika di Kuba tahun 1962. Di era Perang Dingin.

Saat itu, Amerika menempatkan tentaranya di Teluk Babi (Bay of Pigs), pantai Kuba untuk menggulingkan Presiden Fidel Castro. Sebelumnya, Fidel Castro menggulingkan rejim diktator Kuba Jenderal Fugencio Batista yang pro-Amerika. AS saat itu tidak bisa menerima Kuba di bawah Castro yang berkiblat ke Uni Soviet. Akibatnya terjadi konflik antara Uni Soviet dan Amerika di Kuba. Konflik tersebut nyaris mengobarkan perang nuklir di kawasan Karibia.

Kronologinya sebagai berikut. Begitu Uni Soviet tahu, militer Amerika berada di Teluk Babi untuk menjatuhkan Castro, Presiden Uni Soviet Nikita Krushchev marah. Ia menuduh Presiden Kennedy mengancam Uni Soviet. Tak lama kemudian, Soviet mengirimkan rudal-rudal nuklirnya ke Kuba.

Presiden John F Kennedy tidak mau kalah. AS mengirim kapal induk yang dilengkapi senjata nuklir ke laut Karibia. Laut di Kepulauan Karibia pun memanas. Nyaris terjadi perang nuklir antara Uni Soviet dan Amerika di Karibia di mana Kuba berada.

AS mengancam, jika Uni Soviet tidak menarik kapal perang dan rudal nuklirnya dari Kuba, Amerika akan siap tempur. Apalagi setelah pesawat mata-mata AS yang terbang di atas Kuba ditembak jatuh dan pilotnya, Mayor Rudolf Andersen, dibunuh. Kondisi tersebut membuat kawasan makin panas. Washington dan Moskow sudah saling mengancam. Dan mereka siap meledakkan bom nuklirnya.

Tapi, tepat tanggal 28 Oktober 1962, sehari setelah pesawat mata-mata AS ditembak jatuh di Kuba, Krushchev menulis surat kepada Kennedy. Isi suratnya: Uni Soviet bersedia menarik rudal nuklirnya dari Kuba dengan sarat - AS tidak menyerang Kuba dan Washington menarik rudal nuklirnya dari Turki. Surat Krushchev di saat genting itu direspon positif Kennedy.

Perang nuklir pun tidak terjadi. Dunia aman dari kematian manusia secara massal. Juga aman dari partikel-partikel zat radio aktif yang akan mencemari atmosfir bumi akibat perang nuklir yang skalanya lebih besar dari ledakan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Setelah Uni Soviet mengalah, Nikita Krushchev ditanya wartawan. "Kenapa Anda mengalah pada ancaman Kennedy? Apa pertimbangannya?"

Krushchev menjawab. "Ini pertimbangan akal sehat dan rasional. Mengobarkan perang nuklir akan membuat seluruh dunia menderita."

Peristiwa ketidakhadiran Putin di KTT G20 - alasannya mirip-mirip kasus Teluk Babi, Kuba tadi. Putin mengambil keputusan dengan pertimbangan akal sehat. Tidak hadir di Bali demi kepentingan yang lebih besar.

KTT G20 di Bali yang diadakan tepat setelah pandemi Covid-19 mereda, niscaya mempunyai banyak arti untuk memperbaiki kehidupan manusia di dunia setelah terpapar virus yang membunuh lebih dari 6 juta jiwa itu. Karena itu, KTT G20 harus berlangsung dalam situasi kooperatif, solutif, dan kreatif dalam mengatasi problem manusia di muka bumi yang makin terancam kehidupannya.

Ada tiga agenda utama KTT G20, yaitu membangun arsitektur kesehatan global, transformasi digital ekonomi, dan transisi energi berkelanjutan. Secara apik, tagline KTT G20 diusung dalam kalimat "Recover Together, Recover Stronger". Kalimat azimat ini menyatakan: manusia di muka bumi harus bekerjasama agar kuat untuk mengatasi krisis kesehatan dan ekonomi yang menghadang di masa depan.

Putin yang jadi sorotan dunia memang tidak datang ke Bali. Tapi ketidakhadiran Putin menjadikan KTT G20 berlangsung adem dan damai. Semua itu tampaknya sudah disadari Putin. Putin mengalah demi kemenangan yang lebih besar. Seperti halnya Krushchev saat terjadi krisis di Kuba. Ia mengalah untuk menghindari perang nuklir yang menghancurkan dunia. Itulah win win solution! Semuanya menang. Tak ada yang kalah.

Bravo KTT G20 Bali. Semoga sukses untuk menjadikan dunia yang lebih baik mendatang.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top